Kamis, 03 Februari 2011

PERANAN KOMUNIKASI DALAM MENATA HUBUNGAN INTERNASIONAL “Media Massa (perspektif jurnalistik) sebagai Pembentuk Opini Masyarakat Internasional ”


PERANAN KOMUNIKASI DALAM MENATA HUBUNGAN INTERNASIONAL
“Media Massa (perspektif jurnalistik) sebagai Pembentuk Opini Masyarakat Internasional ”

            Dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat, salah satu hal yang menjadi bagian fundamental dan sangat vital adalah komunikasi. Setiap manusia pada hakikatnya merupakan makhluk individu dan sekaligus juga sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri atau bersifat “zoon piliticon”.  Oleh karena itu, manusia berkomunikasi satu dengan lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol kata-kata, gambar, figur grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi. ( Bernard Berelson dan Bary A,Stener).
Sebagai sebuah proses perpindahan informasi dari sender kepada receiver, komunikasi selalu membawa efek yang berbeda bagi penerimanya. Efek yang ditimbulkan bisa berupa Cognitive Effects (berupa pengetahuan), Affective Effects (Perasaan), dan Psychomotor Effects (tindakan/tingkah laku).
Daam kaitannya dengan hubungan internasional, komunikasi menjadi sebuah alat untuk melakukan interaksi antar negara. Hubungan internasional sendiri berarti “International Relations is the relationships between individuals and individuals, between individuals and groups, between groups and groups, between gropus and states, and between states and states” (Bary Buzan).
Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa hubungan yang terjadi tidak dapat terlaksanan tanpa adanya komunikasi. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa komunikasi berperan dalam menata hubungan internasional.
Dalam kaitannya dengan hubungan internasional, komunikasi yang digunakan adalah komunikasi internasional. Komunikasi internasional (International Communication) adalah komunikasi yang dilakukan oleh komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan pesan-pesan yang berkaitan dengan kepentingan negaranya kepada komunikan yang mewakili negara lain.
Sebagai sebuah bidang kajian, Komunikasi Internasional memfokuskan perhatian pada keseluruhan proses melalui mana data dan informasi mengalir melalui batas-batas negara. Subjek yang ditelaah bukanlah sekedar arus itu sendiri, melainkan juga struktur arus yang terbentuk, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, sarana yang digunakan, efek yang ditimbulkan, serta motivasi yang mendasarinya.
Dilihat dari pelakunya, komunikasi internasional dapat dipandang sebagai terbagi antara:
  1. Official Transaction, yakni kegiatan komunikasi yang dijalankan pemerintah.
  2. Unofficial Transaction atau disebut juga interaksi transnasional, yakni kegiatan komunikasi yang melibatkan pihak non-pemerintah.
Kriteria Komunikasi Internasional
Ada tiga kriteria yang membedakan komunikasi internasional dengan bentuk komuniksai lainnya:
  1. Jenis isu, pesannya bersifat global.
  2. Komunikator dan komunikannya berbeda kebangsaan.
  3. Saluran media yang digunakan bersifat internasional.
Fungsi Komunikasi Internasional
  1. Mendinamisasikan hubungan internasioanl yang terjalin antara dua negara atau lebih serta hubungan di berbagai bidang antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda negara/kebangsaan.
  2. Membantu/menunjang upaya-upaya pencapaian tujuan hubungan internasioanl dengan meningkatkan kerjasama internasional serta menghindari terjadinya konflik atau kesalahpahaman baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antar penduduk .
  3. Merupakan teknik untuk mendukung pelaksanaan politik luar negeri bagi masing-masing negara untuk memperjuangkan pencapaian kepentingan di negara lain. (brawijaya.ac.id).
Ruang Lingkup
Komunikasi internasional dapat dipelajari dari tiga perspektif: diplomatik, jurnalistik, dan propagandistik.

1. Perspektif Diplomatik.
Lazim dilakukan secara interpersonal atau kelompok kecil (small group) lewat jalur diplomatik; komunikasi langsung antara pejabat tinggi negara untuk bekerjasama atau menyelesaikan konflik, memelihara hubungan bilateral atau multilateral, memperkuat posisi tawar, ataupun meningkatkan reputasi. Dilakukan pada konferensi pers, pertemuan politik, atau jamuan makan malam.

Hubungan internasional dan diplomasi mempunyai hubungan yang sangat erat. Diplomasi dewasa ini merupakan salah satu instrument yang paling penting oleh negara-negara dalam menjalin hubungan dengan negara-negara lainnya. Hubungan baik kedua negara biasanya ditandai dengan pembukaan hubungan diplomatic, di mana kedua negara saling mengutus perwakilannya (duta besar) untuk ditempatkan di negara lain.

Dalam kaitannya dengan penataan hubungan internasional, hubungan diplomatic antara negara-negara di dunia juga membahas mengenai tata cara penyelesaian sengkete secara diplomatic yaitu dengan cara :
a.)    Negosiasi, adalah perundingan yang dilakukan secara langsung antara para pihak dengan tujuan untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog tanpa melibatkan pihak ketiga. Negosiasi merupakan cara penyelesaian sengketa yang paling dasar dan paling tuas digunakan oleh umat manusia. Pasal 33 ayat (1) Piagam PBB menempatkan negosiasi sebagai cara pertama dari penyelesaian sengketa.
b.)    Enquiry atau penyelidikan, untuk menyelesaikan sebuah sengketa internasional,  akan bergantung pada fakta-fakta para pihak yang tidak disepakati.untuk menyelesaikan sengketa tersebut, pihak-pihak yang terlibat membentuk sebuah badan yang betugas untuk menyelidiki fakta-fakta yang terjadi di lapangan.
c.)    Mediasi, melibatkan pihak ketiga yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa. Pihak ketiga dapat berupa individu atau kelompok, negara atau kelompok negara atau organisasi internasional. Dalam mediasi, pihak ketiga bukan hanya mengusahakan agar pihak yang bersengketa bertemu tetapi juga mengusahakan dasar-dasar perundingan dan ikut aktif dalam perundingan.
d.)   Konsiliasi, penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi mengunakan pihak ketiga. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para pihak dapat saja terlembaga atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak.perbedaan konsiliasi dengan mediasi adalah konsiliasi memiliki hukum acara yang lebih formal dibandingkan dengan mediasi.
e.)    Good Offices atau jasa-jasa baik, adalah cara penyelesaian sengketa melalui pihak ketiga.pihak ketiga berupaya agar para pihak yang bersengketa menyelesaikan sengketanya dengan negosiasi. Jasa baik terbaik dua, yaitu jasa baik teknis dan jasa baik politis. Jasa baik teknis adalah jasa baik oleh negara atau organisasi internasional dengan cara mengundang para pihak yang bersengketa ikut serta dalam konferensi atau menyelenggarakan konferensi. Sedangkan jasa baik politis adalah jasa baik yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional yang berupaya menciptakan suatu perdamaian atau menghentikan suatu perang yang diikuti dengan diadakannya negosiasi atau suatu kompetensi/

2. Perspektif Jurnalistik.
Dilakukan melalui saluran media massa. Karena arus informasi didominasi negara maju, ada penilaian komunikasi internasional dalam perspektif ini didominasi negara maju, juga dijadikan negara maju sebagai alat kontrol terhadap kekuatan sosial yang dikendalikan kekuatan politik dalam percaturan politik internasional. Penguasa arus informasi menjadi gatekeeper yang mengontrol arus komunikasi. Jalur jurnalistik ini jug sering digunakan untuk tujuan propaganda dengan tujuan mengubah kebijakan dan kepentingan suatu negara atau memperlemah posisi negara lawan.
           
·      Jurnalistik sebagai media penbentuk opini publik

Jurnalistik dan Pers sebagai bagian dari media massa dan komunikasi merupakan bahan kajian dari pembahasan mengenai peranan komunikasi dalam menata hubungan internasional pada tulisan ini sehubungan dengan konflik Amerika Serikat dengan Irak.

Pers  adalah lembaga sosial (social institution) atau lembaga kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari sistem pemerintahan di negara dimana ia beropreasi, bersama-sama dengan subsistem lainnya. Ditinjau dari sistem, pers merupakan sistem terbuka yang probabilistik. Terbuka artinya bahwa pers tidak bebas dari pengaruh lingkungan; tetapi dilain pihak pers juga mempengaruhi lingkungan probabilistik berarti hasilnya tidak dapat diduga secara pasti. Situasi seperti itu berbeda dengan sistem tertutup yang deterministik.

Jurnalis bukanlah serdadu yang dilengkapi dengan bayonet dan peluru, bukan pula para diplomat yang menyelinap koridor hotel mencari jalan damai. Namun, kehadiran jurnalis di medan laga, khususnya sejak Perang Vietnam, mempunyai arti yang kian hari menjadi semakin penting. (Susan L. Carruthers).  Bersama dengan beberapa kecenderungan lain, misalnya transparansi public, semakin pentingnya peranan actor non negara (non states actors), dan kesadaran atas hak-hak keselamatan manusia (human security), perang atau damai tidak bisa sepenuhnya diputuskan oleh singgasana kekuasaan, tetapi juga oleh persepsi politik.

Sejak lama, jurnalistik memainkan peran penting untuk mencatat tonggak-tonggak peristiwa, dalam masa perang maupun damai. Dalam Perang Vietnam (1950-1975), yang berkecamuk sampai akhir paruh pertama 1970-an, jurnalis melaporkan jatuhnya korban, berbgai efek psikologi perang, kekacauan politik birokrasi di Gedung Putih sampai dengan berbagai gossip di tangsi-tangsi serdadu Amerika di Saigon. Di Semenanjung Balkan, Teluk Persia (Perang Teluk Dua), dan Somalia, media semakin memainkan peran ideologisnya, dengan cara memaparkan banyak hal yang berkaitan dengan penderitaan di medan perang. Sejak permulaan 1990-an itu pula mereka, para jurnalis dan media massa mulai melengkapi kehadirannya dengan menampilkan dimensi-dimensi kemanusiaan.

 Tentu saja kehadiran Media massa tersebut bisa bermakna ganda. Banyak contoh yang dapat disebutkan untuk menunjukkan bahwa media massa bisa menjadi juru damai, tetapi juga dapat menjadi minyak penyiram bara permusuhan. Laporan jurnalis dari medan perang dapat mengetuk nurani public, yang di dalam system demokrasi biasanya bermuara pada perubahan kebijakan, termasuk berakhirnya sebuah peperangan. Namun, tak kurang pula contoh yang menunjukkan betapa suatu liputan menciptakan ketegangan baru. Bahkan, banyak yang beranggapan bahwa medi massa menjadi teroris tangan-kedua (secondhand terrorism) karena liputan dan analisis mereka tentang aksi terror seringkali justru memperkuat kecenderungan terorisme itu sendiri.
Dalam CNN effect mengukuhkan, media bukan hanya sebagai factor yang mempengaruhi proses politik tetapi bahkan telah menjadi suatu institusi politik. dengan kata lain, penaruh media pada kebijakan tidak hanya terjadi karena arus balik pendapat public sebagai penerima informasi, tetapi juga karena pemerintah seringkali menggunakan media untuk memberikan justifikasi bagi kebijakan-kebijakan perang mereka.
Pena menjadi tak kalah tajam disbanding dengan senjata. Pilihan kata menjadi sama pentingnya dengan peluru. Beberapa bulan menjelang serangan ke Irak, media Amerika cenderung meliput upaya diplomasi dan militer seakan-akan sedang menyaksikan sebuah pacuan kuda. Hal ini menimbulkan semcam sindrom yang efektif untuk membangun opini masayrakat internasional media lebih banyak mengutip pernyataan resmi, mengundang analisis yang pro perang, dan atau menggunakan istilah-istilah yang menimbulkan kecemasan publik.
Karena peran instrumental media itu, maka pilihan atas fakta, sudut pandang, dan interpretasi merupakan rangkaian yang sangat menentukan.3 oleh karena itu, jurnalis dituntut memiliki kemampuan dan kompetensi teknis serta latar belakang yang cukup andal mengenai kawasan di mana mereka meliput, tetapi juga integritas dan moralitas. Di lain sisi, jurnalis sekarang ini tidak lagi hanya sekedar mewartakan apa yang diliputnya tetapi juga menafsirkan apa yang dilihatnya. Kini, seorang jurnalis sebgai penentu informasi yang akan ditampilkan pada media massa yang nantinya akan membentuk opini masyarakat internasional tidak cukup dituntut hanya untuk mengabarkan apa yang terjadi, tetapi juga keharusan untuk memiliki keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Namun, pada saat yang sama, para jurnalis tidak dapat mengesampingkan diri dari persaingan antar-media menjadikan para jurnalis berada di bawah tekanan. Konsentrasi pemilikan dan komersialisasi media menyebabkan para pemasang iklan mempengaruhi bukan hanya isi pemberitaan, tetapi juga penyajiannya.

 3. Perspektif Propaganda.
Umumnya dilakukan melalui media massa, ditujukan untuk menanamkan gagasan ke dalam benak masyarakat negara lain dan dipacu sedemikian kuat agar mempengaruhi pemikiran, perasaan, serta tindakan; perolehan atau perluasan dukungan, pertajam atau pengubahan sikap dan cara pandang terhadap suatu gagasan atau peristiwa atau kebijakan luar negeri tertentu. Propaganda merupakan instrumen terampuh untuk memberikan pengaruh.

Akibat komunikasi internasional dalam perspektif propaganda ini, masyarakat internasional saat ini hidup dengan travail détente, juga “perang suci” (George N. Gordon, pakar komunikasi internasional).

Media mempunyai peluang besar untuk membangun peristiwa dan mecatat tongak-tonggak sejarah. Mereka bukan hanya mengabarkan apa yang terjadi tetapi juga menafsirkannya dan dengan demikian membentuk pandangan masyarakat dunia.

1 komentar:

  1. trimaksih banyak,, sangat membantu untuk ujian final besok

    BalasHapus